Kontras: Radikalisasi Akibat Negara Absen
Dwi Afrilianti - Okezone
Kamis, 30 Juni 2011 16:59 wib
JAKARTA - Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mensinyalir konflik-konflik radikal berdampak besar yang terjadi di lingkup nasional Indonesia merupakan akibat dari ketidakhadiran negara.
"Negara selama ini tidak hadir menengahi konflik-konflik bernuansa radikal, hadirnya ya hanya kayak pidato-pidato, enggak ada wibawa," ujar Koordinator Kontras, Haris Azhar, dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (30/6/2011).
Haris menilai, negara tidak benar-benar hadir memfungsikan otoritasnya untuk menengahi konflik dalam masyarakat. Akibatnya, dapat dilihat dalam contoh nyata konflik-konflik di Ambon, Poso, atau Sampit yang meluas. Bahkan tidak jelas siapa yang memulai, ibarat telor dan ayam. "Akhirnya yang tertinggal hanya sakit hati dan keinginan membalas," katanya.
Sementara itu Staf Ahli Sosbud Kapolri Irjen Pol Saud Usman Nasution mengatakan, penanganan gerakan radikal di Indonesia bukan hanya menjadi tugas Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Masalah ini merupakan tanggung jawab bersama masyarakat, yang secara langsung pula merasakan dampaknya. "Kami ini jadi ibarat pemadam kebakaran, terjadi baru kita menindak. Padahal kalau bersatu padu, gerakan radikal bisa diantisipasi," ujarnya.
Saud mengakui, dalam menangani kasus-kasus radikal, kewenangan Polri hanya sebatas jika ada pelanggaran hukum. Sehingga, sebelum itu terjadi, pihaknya mengharapkan elemen-elemen lainnya di masyarakat dapat bertindak.
(ram)
"Negara selama ini tidak hadir menengahi konflik-konflik bernuansa radikal, hadirnya ya hanya kayak pidato-pidato, enggak ada wibawa," ujar Koordinator Kontras, Haris Azhar, dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (30/6/2011).
Haris menilai, negara tidak benar-benar hadir memfungsikan otoritasnya untuk menengahi konflik dalam masyarakat. Akibatnya, dapat dilihat dalam contoh nyata konflik-konflik di Ambon, Poso, atau Sampit yang meluas. Bahkan tidak jelas siapa yang memulai, ibarat telor dan ayam. "Akhirnya yang tertinggal hanya sakit hati dan keinginan membalas," katanya.
Sementara itu Staf Ahli Sosbud Kapolri Irjen Pol Saud Usman Nasution mengatakan, penanganan gerakan radikal di Indonesia bukan hanya menjadi tugas Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Masalah ini merupakan tanggung jawab bersama masyarakat, yang secara langsung pula merasakan dampaknya. "Kami ini jadi ibarat pemadam kebakaran, terjadi baru kita menindak. Padahal kalau bersatu padu, gerakan radikal bisa diantisipasi," ujarnya.
Saud mengakui, dalam menangani kasus-kasus radikal, kewenangan Polri hanya sebatas jika ada pelanggaran hukum. Sehingga, sebelum itu terjadi, pihaknya mengharapkan elemen-elemen lainnya di masyarakat dapat bertindak.
(ram)

